Hari Pertama Bersama ATM

00.14 Aji Achmad Mustofa 0 Comments

Di sebuah kampus terkenal bernama gunadarma yang berada di kalimalang. Hidup seorang mahasiswa asli dari batak yang bernama Poltak. Dia orang terkenal di kampus tersebut karena logat bataknya yang khas dan suka melawak walaupun di depan umum. Jika semua mahasiswa tertawa, artinya Poltak sedang berkocak ria dengan temannya. Dia melucu atau bercanda layaknya seorang artis yang sedang main di sebuah komedi.

Sayangnya, akhir - akhir ini, Poltak ,si raja ngelawak dari batak, sedang termenung sedih. Teman - temannyapun mencoba berusaha untuk menghiburnya tetapi semuanya sia - sia karena ketika si Poltak sedang termenung, sangat sulit untuk membuat dia kembali tersenyum.

“Kawan, ceritalah pada aku, apa yang sedang kau alami?, aku dan teman - teman kau ini, pasti akan membantu. Tidak tega aku melihat raja ngelawak asli batak bersedih hati”, Ichan, salah seorang temannya, mencoba untuk menghibur dengan berlagak batak di hadapannya.Teringatlah Poltak dengan surat yang datang langsung dari batak.

Poltak anakku sayang, bapak kau ini sudah tidak akan menggunakan wesel untuk mengirimi kau uang. Apa kata orang batak jika hidup bapak kau ini mash menggunakan wesel. Bawalah kartu yang ada di amplop ini. Pergilah kau ke ATM dan ambillah uang kau di sana. Karena uang kau itu, bapak kirimkan dari sana

“Tidak apa - apa kawan, hanya uangku saja yang belum tiba”, jawab Poltak si tukang ngelawak.

“Cayang Poltak laper?, hari ini biar gw yang traktir loe”, seorang teman wanitanya datang membantu berharap bisa meringankan beban pikirannya. Tersenyumlah wajah si Poltak, menghasilkan hawa kepicikan ke sekitar temannya.

“Dasar!, kalo dah dapet makanan gratis aja, otak ngelawaknya kambuh”, cela Ichan melihat senyuman temannya.

“Tak usahlah kau protes kawan. Mungkin bukan rejeki kau dapatkan traktiran gratis”, balas Poltak tertawa.

“Say, tunggu bentar ya, gw mau ngambil uang dulu di ATM”, wanita yang bernama Ruth itu pergi ke ATM. Mendengar kata ATM, membuat Poltak teringat akan kartunya yang bertuliskan nama sebuah Bank. Ingin si Poltak menyusul temannya tetapi dia berpikir sombong “Aku ini Poltak si raja lawak. Tak lucu kalau artis saperti aku itu ikut hanya untuk mencari tahu bagaimana cara mengambil duit dari ATM”. Poltakpun terus saja berjalan bersama teman - temanya yang lain. Sembari memikirkan cara bagaimana dia pergi ke ATM tanpa diketahui oleh kawannya yang lain. Dia merasa malu jika kawannya tahu bahwa dia itu tidak tahu cara menggunakan ATM.

Sepulang dari kuliah, si Poltak langsung menghampiri kamar kosnya. Memikirkan seribu cara dan seribu kemungkinan apabila dia ingin mengambil uang di ATM. Sembari berpikir, dia mulai menyiapkan semua perlatan yang ada. Kartu ATM, sepatu, pakaian rapi, topi, surat dari batak, pokoknya segala sesuatu yang membuatnya aman dalam pengambilan uang dari ATM. Pukul sembilan malam, dia pergi sendiri berjalan kaki menuju jalan kalimalang yang ternyata ATM itu sudah menyebar di sudut - sudut jalan kali malang.

“Kawan, mau kemana kau malam - malam seperti ini. Mau ngedate kau sama cewek kau”, tanya teman kosnya berlagak batak.

“Tak usahlah kau pikirkan aku. Orang sibuk seperti aku memang harus terbiasa pergi kapanpun”, jawab Poltak. “Sok sibuk kali kau”, orang itu pun menggerutu di depannya.

Poltak pun berjalan di ramainya jalanan kalimalang. Berjalan dengan satu tujuan yaitu ATM. Mencari ATM yabg sesuai dengan kartu ATMnya. Dapatlah dia sebuah ATM di pasar Sumber Arta, dengan gaya coolnya dia masuk ke ruang ATM. Saat masuk, sadarlah dia bahwa uangnya itu berada di dalam sebuah mesin besar. Keluarlah dia karena bingung bagaimana cara mengambilnya. Lalu dia berkeliling - keliling di sekitar pasar Sumber Arta sembari memikirkan cara untuk mengambilnya. Setelah lama berpikir, dia masuk lagi lalu keluar lagi karena dia ragu akan caranya yang dia dapatkan saat berkeliling pasar Sumber Arta. Hal ini terulang hingga beberapa kali dan membuat orang - orang di sana curiga.

Selang beberapa saat, akhirnya Poltak memaksakan diri untuk mencoba mengambil uang di ATM tersebut walau resikonya besar. Dia masuk ke ruang ATM,dan melihat sebuah gambar yang artinya dia harus memasukan kartu ATMnya ke dalam mesin tersebut. Dia bernafas lega karena tahap yang pertama selesai. Selanjutnya memasukan nomor PIN. Saat memasukan nomor PIN, dia berpikir berapa nomor PINnya. Ingin dia menghubungi bapaknya tetapi dalam hati dia berkata “Apa kata orang batak, kalau orang seperti aku ini mengandalkan orangtuaku terus”. Dia pun nekat memasukan nomor PINnya walau harus mengarang. Hingga tiga kali dia salah memasukan nomor PINnya membuat kartu ATMnya tertelan oleh mesin ATM. Marahlah dia kepada mesin ATM.

“Hai kau mesin, keluarkanlah katu ATMku, tega kali kau menelan ATMku. Apa kau tak berpikir kehidupanku yang akan datang?”. Sembari marah dia memukul, menendang, atau melakukan perbuatan tidak terpuji kepada mesin ATM. Selang beberapa saat ada polisi yang tiba - tiba datang dan menangkap si Poltak, raja ngelawak dari batak.

“Pak, apa - apanan kau. Apa salah aku hingga bapak ingin menangkap aku”

Ternyata polisinya lebih galak dari dia,”Udah, jelasin semua di kantor polisi”. Lemaslah Poltak mendengar kata kantor polisi. Dia membayangkan bagaimana reaksi anak kampus saat mendengar artisnya masuk kantor polisi.

“Pak, aku tidak bermaksud untuk mencuri, uangku banyak, tanahku luas, apalah gunanya aku mencuri pak!”, Poltak mencoba mengelak dari tuduhan - tuduhan yang diarahkan kepadanya. Hingga akhirnya dia menceritakan semua kronologi dari surat datang hingga ke mesin ATM sembari menunjukan surat yang dia dapat dari batak. Tertawalah pak polisi mendengar cerita si Poltak

“Hai Poltak, kau ini bodoh apa pura - pura bodoh. Apa gunanya taman kalau tidak kau gunakan untuk bertanya?”.

Malulah Poltak kepada pak polisi karena semua kekonyolan yang dilakukannya pada malam ini. “Ini buat ongkos kau pulang”, pak polisi menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah kepada Polta. Dia pun malu - malu menerimanya tetapi karena butuh, tanpa piker panjang tangannya menyambar uang tersebut.

Dari situlah Poltak semakin terkenal, ceritanya menjadi gurauan masyarakat sekitar, dan polisi - polisi kalimalang tidak ada yang tidak kenal Poltak, raja lawak dari batak