Nafasku Untuk Orangtuaku

20.55 Aji Achmad Mustofa 0 Comments

Aku, anak tunggal dari jakarta. Hidup di tengah – tengah manusia penuh cita – cita. Mulai dari dokter, tehnik mesin, pilot, ataupun presiden. Manusia – manusia tersebut termasuk aku adalah manusia yang tinggal di sekolah elit, berfasilitas lengkap, dan berkualitas mantap.

Setiap hari, pekerjaanku adalah belajar, berorganisasi, beraktifitas, hanya untuk mimpi tertinggiku. Aku tidak seperti Fikri yang belajar fisika untuk menjadi ahli sipil atau pun Firdaus yang berolahraga untuk menjadi tentara. Tapi aku hidup hanya untuk membahagiakan orang tuaku. Walau jiwa ragaku sirna asalkan orang tuaku bahagia, itu sudah menjadi kesenangan tersendiri buat hatiku.

Memang, orang tuaku hanyalah seoarng PNS biasa. Tetapi itu tidak menghanguskan semangat mereka untuk tetap menyekolahkanku di sekolah bagus. Hal itu yang membuatku bangga kepada mereka. Dari situlah aku berjanji “Lebih baik aku mati dari pada melihat orang tuaku menangis karena diriku”.

Di sekolah, aku bukanlah orang yang bisa diandalkan. Otakku pas – pasan, tubuhku hanyalah daging kurus yang tidak berisi karena aktivitasku yang terlalu berlebih. Tetapi semangatku lebih tinggi dari gunung Everest, lebih dalam dari dalamnya samudra karena tujuanku mulia, yaitu untuk membahagiakan orang tuaku.

Kegigihanku yang sedemikian hebat membuatku menjadi anak terajin di sekolahku. Tapi image tersebut tidak sebanding dengan hasil yang aku buat. Walau setiap hari aku membawa buku yang banyak tapi itu tidak membuat nilai raporku meningkat. Sehingga salah seorang temanku bertanya padaku

“Mad, aku lihat kamu lebih banyak belajar dari pada tidur, lebih banyak membaca dari pada mengobrol. Tapi, kenapa kamu tidak lebih pintar dari teman – temanmu yang tidak seperti dirimu ?”

“Pintar itu tidak penting bagiku, yang terpenting orangtuaku bisa tersenyum karena usaha baikku”, jawabku santai.

Jawaban tersebut membuat teman – temanku semakin takjub. Oleh karena itu, mereka rela membantuku dengan sarana – prasarana yang mereka punya. Itu semua karena mereka kagum akan tujuanku yang begitu mulia.

Hingga takdir berkata lain, orang tuaku meninggal di saat aku tinggal selangkah lagi untuk membuat mereka tersenyum. Saat mereka meninggal, aku sama sekali tidak bersedih, tidak pula bahagia. Aku terlihat seperti orang yang sangat lapang dada akan hal tersebut. Hal itu mebuat temanku heran

“Mad, kamu gak sedih ?. Padahal kamukan belum membahagiakan orang tuamu ?”

“Benar aku sama sekali tidak bersedih dan memang tujuanku telah kandas. Tetapi aku tidak mau karena kepergian orang tuaku semua mimpiku gagal. Biar seluruh kerabatku meninggal, hartaku hangus, tubuhku lumpuh. Asalkan aku masih masih bisa bernafas, aku akan membawa nafasku hingga mimpi tertinggiku”.

“Dan aku percaya, jika orang tuaku tidak bahagia di dunia, pasti mereka akan bahagia di alam baka karena usaha – usahaku untuk membahagiakan mereka”, jawabku dengan bangga.

0 komentar :