IMPIAN YUNI

12.14 Aji Achmad Mustofa 0 Comments

Malam yang indah dihiasi dengan bulan purnama yang cantik sedang dipandang mesra oleh wanita cantik bernama Yuni Wulandari melalui jendela kecil di dalam kamarnya. Pemandangan yang membuat dia lupa akan perutnya yang sudah meminta untuk diisi oleh hidangan lezat yang disiapkan oleh pembantunya di rumah. Pemandangan yang membuat dia berandai akankah hidupnya bisa seindah malam ini. Akankah bulan malam ini bisa jadi hiasan baginya kala dia sedang bersedih.
“Andai malam ini selalu kudapati tiap waktu”, yuni bergumam dalam hati sembari berharap malam ini tidak pernah berganti dengan siang.
“Yuni, mari makan”, suara pembantu dirumah yuni membuat dia kembali ke alam sadarnya dan mengingatkan dia bahwa ini adalah hidup yang harus dihadapi.
“Nanti aja bi”, Yuni tidak begitu menanggapi panggilan Sang pembantu. Dia malah terus memandangi bulan malam ini agar hati yang kadang kesal ini menjadi nyaman. Teringatlah yuni dengan aktivitas orangtuanya yang begitu padat hingga mereka tidak pernah menghabiskan waktu libur yang dimiliki oleh yuni dalam sebukan ini. Air mata yunipun sedikit demi sedikit mulai menggenangi matanya yang kecoklatan dan akhirnya mengalir dipipinya yang lembut bagai salju di musim dingin.
“Kakak, ayo makan!”, tiba – tiba saja Retno Permata Sari, adik perempuan satu – satunya masuk ke kamar untuk mengajak kakaknya yuni makan malam bersama - sama. Yuni yang kaget akan kedatangan adiknya langsung mengusap pipinya yang lembab agar wajahnya tidak terlihat bersedih oleh adiknya. Diapun langsung menghampiri sang adik dan turun ke meja makan untuk menemani sang adik menghabiskan makan malamnya.
“Kalau bukan karena adikku, pasti aku tidak akan makan malam ini”, gumam yuni dalam hati.
Yuni yang kadang kesal karena sikap orangtuanya kepada dia dan adiknya tidak makan terlalu banyak. Malam ini, nafsunya hanya ingin digunakan untuk menikmati indahnya malam melalui jendela kecil dikamarnya.
Sang adik yang melihat tingkah yuni malam itu bertanya pada yuni
“Kakak kok gak makan banyak sich !?. Nanti sakit lho kak !”.
“Biar aja kakakmu sakit, toh gak ada yang peduli sama kakak”, jawab yuni mencoba acuh tak acuh kepada adiknya sembari berharap rasa kesal malam ini hilang dengan bersikap acuh tak acuhnya pada adiknya.
“Nanti kalo kakak sakit, siapa dong yang nemani Retno main ! , ayah dan ibu kan jarang sekali ada di rumah”.
Mendengar jawaban melas dari sang adik membuat hati yuni tergugah untuk membagi nafsu kepada perut di bawahnya. Dia langsung mengambil banyak makanan karena tidak tega melihat adiknya yang jarang mendapat perhatian dari orangtuanya, bersedih. Setelah makan malam selesai, dia menemani sang adik untuk tidur di kamarnya dan berdoa kepada sang pemilik alam
“Ya Allah, berikanlah adikku kasih sayang yang cukup dari orangtuaku. Cukuplah aku menjadi orang pertama dan terakhir kali yang hanya sedikit mendapatkan kasih sayang orangtuaku”, setelah itu, dia kembali ke kamarnya yang berfasilitaskan hotel bintang lima untuk kembali menikmati indahnya malam melalui jendela kamarnya.
Keesokan harinya, dengan nada kesal Yuni menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja pulang dari kerja,
“Ayah dan Ibu nih !, bukannya ngurusin anak di rumah, malah kelayapan kayak induk yang gak peduli sama anaknya”.
Mendengar sindiran tersebut, emosi sang ayah yang baru saja pulang langsung naik, “Kamu nih anak yang gak tahu diuntung. Mestinya kamu bersyukur punya ayah dan ibu yang mau kerja setiap hari!”.
“Buat apa kerja capek – capek, tapi tak bisa berbagi waktu dengan anaknya”, dengan cepat Yuni kembali ke kamarnya sembari membanting pintunya yang untungnya terbuta dari jati asli. Setelah itu, Tidak ada seorang pun di dalam rumah yang bersuara. Semua terdiam sepi menanti apakah keributan ini akan berlanjut ke hal yang paling tidak diinginkan. Selang beberapa menit kemudian, yuni menghubungi seluruh teman – temannya untuk berkumpul di mall metropolitan dan tanpa pamit, dia pergi meninggalkan semua keributan yang baru saja terjadi sembari berharap akan ada hiburan saat dia bertemu dengan teman – temannya nanti.
“Yun, koq loe murung gitu sich !”, Muahammad Rendi yang datang karena permintaan yuni untuk datang ke Mall Metropolitan bertanya kepada Yuni yang sejak tadi menekukan wajahnya dari pandangan rendi.
“Gak papa koq “, Yuni menjawab dengan santai sambil menikmati jus mangga yang dia beli ketika sampai di mall.
“Abis berantem ma bokap ya!!!!”, Rendi yang tahu bagaimana kondisi kehidupan yuni mencoba menebak apa yang terjadi karena yuni sering sekali curhat tentang kondisi keluarganya selama ini. Yuni hanya bisa bermuka cuek karena dia tidak mau teman teman satu konsulnya itu tahu bagaimana keadaan keluarganya lebih jauh.
“Yun, sebenarnya, impian loe hidup di dunia tuh apa sich?”, Rendi bertanya kepada Yuni untuk memecahkan suasana yang sejak tadi sunyi seperti tidak ada yang kenal satu sama lain.
“Loe sendiri apa ? “, Yuni balik bertanya kepada Rendi.
“Impian gw sebenarnya sich adalah membahagiakan orangtua gw. Gak lebih, gak kurang”.
“Loe sich enak punya orangtua yang selalu merhatiin loe, gak kayak gw. Pasti orangrtua gw selalu kelayapan.” Dengan ekspresi kesal yuni menjawab sembari membuka SMS masuk yang baru saja dia terima.
“Sebenarnya keluarga gw tuh sama kayak loe. Cuma gw hanya terlihat gembira aja biar teman – teman gw gak ada yang kasihani gw sama sekali”
“Ren, mending loe pulang sekarang. Orangtua loe tuh ……”, Yuni tidak bisa meneruskan kata – katanya karena SMS yang berisi
Yun, sry gw ma tmn2 yang lain g’ bsa k MM, gw gy d rmh Rendi. Coz ortu Rendi mninggal dnia”.
“Orangtua gw meninggal yah”, Rendi meneruskan kata – kata Yuni yang terputus.
“Gw dah tahu koq, makanya gw ke sini karena gw gak mau teman - teman gw datang ke rumah kalao Cuma untuk mengucapkan rasa duka”.
“Tapi pokoknya loe harus pulang!, kasihan arwah orangtua loe. Gimana loe mau membahagiakan orangtua loe kalau loe kayak gitu ?!”, Yuni langsung menarik paksa Rendi dan membawanya pulang ke rumah untuk memakamkan langsung keduaorangtuanya. Sesampainya di rumah, mereka langsung mengikuti proses pemakaman orangtua Rendi yang meninggal di tempat akibat kecelakaan di jalan tol Cikampek.
Sesampainya Yuni di rumahnya yang mewah, dia berpikir kenapa Rendi lebih mementingkan dirinya dari pada orangtuanya. Sempat dia berpikir bahwa Rendi mungkin punya rasa pada dirinya yang terkenal punya wajah yang manis. Sayangnya pikiran yang hampir membuat yuni melayang sirna ketika dering sms hpnya bergetar
Yun, mubung orangtua loe masih ada. Cobalah membahagiakan mereka sebelum loe menyesal di kemudian hari
Dari pesan singkat itu Yuni mengerti kenapa Rendi tetap menemuinya saat orangtuanya meninggal. Itu semua karena teman laki – lakinya itu ingin agar dirinya tidak seperti Rendi yang menyesal di kemudian hari. Rendi tidak mau keluarga Yuni yang senasib dengan kelurga Rendi akan berakhir seperti dirinya. Semenjak itu dia bertekad untuk membuat kedua orangtuanya bangga saat wisuda kelak dengan mendapatkan prestasi tertinggi di pondoknya kelak.
Ketika kembali ke tempat Yuni belajar, dia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu. Dia yang jarang ke masjid menjadi orang yang suka ke masjid dan menjadi orang pertama dibandingkan dengan teman – temannya yang lain. Dia yang sering keluar komplek tanpa izin menjadi orang yang tidak pernah keluar komplek karena mengejar hapalan lima juz yang menjadi syarat untuk membanggakan keduaorangtuanya ketika wisuda nanti. Dia yang dulunya jarang sekali belajar menjadi orang yang rajin belajar sehingga dia selalu mendapatkan nilai terbaik di kelasnya. Berbeda dengan Rendi, Rendi menjadi orang yang paling malas di Assalaam. Walaupun prestasinya unggul pada urutan pertama tetapi akhlaqnya berada di bawah standar. Memang dia sudah hapal tujuh belas jus tetapi setelah orangtuanya meninggal, dia sudah jarang sekali menghapal. Dia hanya mengulang – ngulang hapalannya yang semakin lama semakin hilang dari ingatannya.
Mendengar kaeadaan Rendi yang semakin buruk membuat hati kecil yuni menggerakan dirinya untuk memotivasi keadaan temannya Rendi. Sudah banyak cara bagi yuni untuk menghubungi Rendi. Entah itu melalui HP temannya, surat yang dititipkan kepada temannya ketika meeting, ataupun bertemu langsung di luar Assalaam. Sayangnya semua itu jauh dari harapan untuk membuat kondisi Rendi seperti dulu.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggupun tiba. Yuni dengan penuh keyakinan telah membuktikan bahwa dia bisa mendapatkan gelar tertinggi saat wisuda, yaitu syahadah. Begitu pula temannya Rendi. Diapun juga mendapatkan gelar syahadah sama seperti Yuni.
Ketika tanggal 11 Mei 2008, Yuni dan seluruh teman – temannya beriringan satu persatu menuju kursi yang telah disediakan panitia untuk calon wisudawan dan wisudawati. Ketika saatnya tiba bagi Yuni, Rendi, dan teman – temannya yang akan mendapatkan gelar syahadah maju ke podium untuk diwisuda. Yuni mendapatkan kabar buruk bahwa orangtua dan adik semata wayangnya meninggal kecelakaan ketika pergi ke solo. Hal ini membuat Yuni histeris dan pingsan di tempat. Sedangkan Rendi langsung menemui salah seorang kerabat orangtua Yuni untuk memastikan berita yang baru saja dia dengar. Setelah Rendi mendapatkan berita yang pasti maka kegiatan wisuda berubah menjadi kegiatan untuk memakamkan keluarga Yuni.
Belum selesai acara pemakaman keluarga Yuni selesai. Semua orang yang hadir dikejutkan oleh perbuatan Yuni yang langsung naik ke lantai atas masjid dan mencoba untuk bunuh diri. Para pelayat di masjid berteriak agar Yuni tidak melakukan hal tersebut.
“Semuanya mingir, saya ingin mati saja . Karena percuma saya hidup di dunia kalau saya sudah tidak punya siapa – siapa lagi. Impian saya untuk membahagiakan orangtua saya sudah kandas”, Yuni berteriak kencang dengan air mata yang terus mengalir. Sedangkan orang – orang yang di masjid mencoba untuk tenang dalam menyelamatkan Yuni yang sedang shock.
“Yuni!”, Rendi yang tiba – tiba sudah berada di lantai atas berteriak. Sehingga membuat semua orang yang di masjid terdiam seribu bahasa.
“Gw tahu loe punya impian yang mungkin sama dengan gw”
“Tapi inget !, loe masih punya orang – orang yang membutuhkan senyuman loe. Loe masih mempunyai impian yang masih bisa loe lakuin. Loe punya gw, Hendra, Satrio, Mita, dan yang lain. Loe gak sendiri Yun”, perlahan – lahan namun pasti Rendi mendekati Yuni dan menarik Yuni agar menjauh dari tempat tersebut.
“Ren, apa loe masih punya impian ? ”, Yuni bertanya kepada Rendi yang telah berhasil menarik dirinya dari ketinggian lantai atas masjid Assalaam.
“Yun, jujur setelah kejadian setengah tahun yang lalu, gw ubah semua impian – impian gw menjadi satu yaitu gw gak akan membiarkan ada orang yang senasib sama kayak gw”
“Apalagi loe !, cukup gw aja yang menerima hal tersebut”, dengan menetesakan air mata Rendi memeluk hati gadis itu dengan kata – kata penuh kelembutan dan kasih sayang. Dengan harapan, Yuni tidak histeris lagi dan menerima semua yang telah terjadi.
Setelah drama percobaan bunuh diri yang akan dilakukan Yuni berakhir. Semua orang kembali meneruskan acara pemakaman keluarga Yuni dan wisuda pun diundur hingga esok hari. Sedangkan Rendi tetap mengawasi Yuni yang sedang duduk termenung di serambi masjid hingga yuni bisa tersenyum dan menerima apa yang baru saja terjadi.